Pendakian Gunung Papandayan yang Ceria dan Menyenangkan

Setelah pendakian perdana gue di awal tahun baru 2013 ke Gunung Sumbing, akhirnya terpecahkan juga pendakian kedua gue ke Gunung Papandayan di tanggal 19 – 20 Oktober 2013. Kalau pada pendakian perdana peralatan nya kurang siap yang berujung harus pinjam kiri-kanan, maka untuk sekarang gue sudah berhasil mempunyai peralatan mendaki sendiri ( walau masih kurang lengkap sih ) :sweating:

Pendakian ke Gunung Papandayan ini sendiri, gue mengikuti event dari trip organizer Wisata Gunung dengan total peserta sekitar 32 orang. Overall gue puas banget dengan kemampuan guider nya sehingga Pendakian ke Gunung Papandayan ini dapat berjalan lancar dan mengesankan.

Itinerary Pendakian Papandayan SelectShow

* * *

Cerita Pendakian Gunung Papandayan ini gue mulai ketika harus menunggu bus dari Lampu Merah Cengkareng untuk menuju meeting point di Terminal Kampung Rambutan. Nunggu 30 menit lama nya bus Patas Mayasari Bakti AC 02 ( Kampung Rambutan – Kalideres ) tidak kunjung tiba, padahal waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 20.30, tapi untung nya 10 menit kemudian tibalah bus itu.

Karena ini benar-benar pengalaman awal gue menuju Terminal Kampung Rambutan, asumsi awal 1 – 1.5 jam sudah sampai, ternyata ujung-ujung nya sampai 2 jam kemudian gara-gara bus nya ngetem 30 menit-an di Grogol. Dan sebagai akibat nya gue pun menjadi peserta paling terakhir yang tiba di Masjid Terminal Kampung Rambutan, malu abis dah gara-gara telat parah :desperate:

Setelah tiba kehadiran gue yang sudah ditunggu-tunggu layak nya aktor terkenal, maka briefing singkat pun di mulai dan cussss…. semua peserta menaiki bus tujuan Garut ( lupa nama bus nya ) dengan biaya 42 ribu rupiah. Sekitar pukul 04.00 pagi, bus berhenti tepat di depan SPBU Garut. Dari sini trip organizer sudah mengatur dengan menyewa mobil pickup terbuka untuk menuju Masjid di daerah Cisurupan, Garut sebagai tempat ISHOMA dan melengkapi logistik berhubung ada minimarket dan warung makan disini.

Suasana di sekitar Masjid – Pertigaan Cisurupan, Garut

Setelah kenyang sarapan Lontong Sayur di sini dan para peserta lain sudah berkumpul semua di Masjid, akhirnya mobil pick up pun tancap gas lagi untuk menuju Camp David. Tapi ternyata jalan menuju Camp David ini cukup banyak kerusakan di beberapa titik yang berakibat mobil pick up yang gue tumpangi pun akhirnya tidak kuat untuk nanjak sehingga terpaksa harus naik turun mobil hingga berulang kali.

Perjalanan Menuju Camp David – Papandayan

Setelah 1 jam lama nya, akhirnya tiba lah kami semua ke Camp David. Sebelum memulai pendakian, gue pun mempacking ulang bawaan agar pendakian terasa nyaman. Di area Camp David ini bagi anda yang masih lapar, maka anda bisa makan kenyang karena banyak warung makan dan kopi bertebaran disini. Di sini juga sebagai tempat parkir mobil pick up yang sedang menunggu para pendaki yang akan turun kebawah. Tapi tidak disarankan beli logistik air disini, karena harga nya pasti nya lebih mahal disini dibandingkan beli di pasar daerah Cisurupan.

Camp David – Papandayan

Pendakian Gunung Papandayan pun di mulai dengan melewati kawah belerang yang jalur track nya dominan oleh batu-batu besar. Sangat di anjurkan membawa masker agar pernapasan tidak terganggu oleh bau belerang yang sangat menyengat. Hawa di track kawah belerang saat itu galau karena dingin di badan tapi menyengat di kulit karena efek matahari langsung, jadi siap-siap sunblock ya agar kulit nya tidak terbakar.

Oh ya yang menarik di kawah belerang ini adalah gue melihat ada beberapa rider yang menaiki motor trail atau motor bebek dimodif jadi trail yang mencoba melewati jalur track ini untuk mencapai Pondok Salada, gue cuma bisa bilang hebatttt dah secara beberapa kali gue lihat motor nya tergelincir gara-gara melawan batu besar :beg:

Kawah Belerang di Gunung Papandayan – Garut

Yuk Nge-Trail di Papandayan

Setelah jalur track kawah belerang terlewati, maka jalur berikut nya dominan berupa tanah dan di kelilingi tumbuhan di kiri – kanan nya. Di jalur track ini, pendakian terasa nyaman karena ada beberapa jalur track yang lurus sehingga tidak buat kaki pegel haha..

Dan akhirnya setelah pendakian kurang lebih 2,5 jam dari Camp David, akhirnya gue dan rombongan pun tiba di Pondok Saladah – Papandayan sebagai tempat untuk membangun tenda. Pada saat kami datang, sudah banyak tenda yang di bangun, memang Gunung Papandayan ini tempat yang nyaman untuk sekedar mendaki di akhir pekan. :senang:

Jalur Menuju Pondok Saladah – Papandayan

Pondok Saladah – Papandayan

* * * * *

Tegal Panjang – Gunung Papandayan

Tidak lama kami beristirahat di Pondok Saladah karena tujuan berikut nya adalah menuju Tegal Panjang yang waktu tempuh nya sekitar 2 jam ( Satu Arah ). Jalur trekking menuju Tegal Panjang ini melewati hutan yang sempit jarak nya karena kiri-kanan nya di penuhi oleh tumbuhan-tumbuhan berbagai jenis. Sangat di sarankan memakai celana panjang, sepatu dan sarung tangan karena ada beberapa tumbuhan yang masih ada duri nya brrrr……. :suram:

Trekking dalam Hutan menuju Tegal Panjang – Papandayan

Tetapi semua kelelahan selama 2 jam itu terbayarkan oleh keindahan Tegal Panjang yang di penuhi oleh tumbuhan hijau kekuning-kuningan. Pada saat kami tiba kesana, tidak ada rombongan lain yang terlihat, mungkin karena alasan jalur dalam hutan nya yang bikin bingung atau karena jalur trekking yang agak bikin repot jadi membuat malas 2 kali datang ke sini, entahlah…

Tapi yang pasti ketika gue di Tegal Panjang, cuaca nya terik banget dahhhh… Untung ajah badan pakai full-equip sehingga tidak khawatir kulit terbakar, tapi kalau udah di atas bukit nya sih, suasana nya benar-benar asik bahkan bisa buat ketiduran karena angin nya buat ngantuk :siul:

Menuju ke atas bukit di Tegal Panjang – Papandayan

Pemandangan Tegal Panjang – Papandayan dari atas bukit

Setelah kurang lebih nyantai di Tegal Panjang 1 jam lama nya, akhirnya rombongan kami pun kembali menuju Pondok Saladah yang mana harus menempuh waktu 2 jam lagi. Jujur saja, waktu balik ini kaki gue berasa mau lepas antara tulang sama sendi nya karena pegal banget selain itu rombongan juga udah terpencar-pencar sehingga waktu itu gue cuma berjalan ber-3 saja, tapi untung nya sebelum langit gelap gue sudah sampai di Pondok Saladah.

Acara malam hari nya di isi dengan waktu ngobrol-ngobrol, bercanda ria dan di temani oleh api unggun untuk menjadi teman yang menghangatkan badan karena suhu malam itu sangat lah dingin :ill:

Dan sekitar pukul 21.00, gue pun memilih sudah masuk ke dalam tenda dan sleeping bag karena sudah tidak tahan dengan dingin nya brrr…..

* * * * *

20 Oktober 2013

Pukul 04.00 gue sudah terbangun dari tidur gue yang benar-benar tidak nyenyak akibat suara ngorok teman sebelah gue :notlisten:

Dan berhubung di luar tenda terdengar suara gaduh, akhirnya gue pun memutuskan keluar tenda saja sambil menunggu sunrise. Eh tapi sayang ternyata langit saat itu berkabut, sehingga gagal deh melihat sunrise. Dan sekitar pukul 06.00 langit pun mengeluarkan air hujan yang memaksa gue pun kembali ke dalam tenda dan memilih tidur kembali berhubung belum puas.

Hutan Mati – Gunung Papandayan

Pukul 08.30 langit sudah terlihat cerah kembali dan rombongan di briefing untuk bersiap-siap untuk menuju tujuan berikut nya ke Tegal Alun melewati Hutan Mati. Lokasi Hutan Mati dari Pondok Saladah sangat lah dekat, sekitar 10 menit perjalanan saja dan view nya keren banget dahhhh…..

Di Hutan Mati ini, kandungan tanah nya terlihat sekali mengandung belerang dan abu sisa dari letusan Gunung Papandayan yang dahulu. Sehabis puas foto-foto perjalanan pun di lanjutkan terus menuju Tegal Alun – Papandayan.

Gaya dulu di Hutan Mati – Papandayan

Foto Rombongan di Hutan Mati – Papandayan

* * * * *

Tegal Alun – Gunung Papandayan

Dari Hutan Mati ke Tegal Alun ini hanya butuh waktu sekitar 30 menitan. Di Tegal Alun ini gue melihat Padang Edelweis yang indah banget, cocok banget dah ini kalau mau buat foto-foto couple romantis gitu, tapi sayang di perjalanan ini gue belum ada gebetan buat di jadiin foto couple :shy:

Karena kondisi waktu yang mepet akibat menunggu hujan di pagi hari, akhirnya summit puncak Papandayan pun di batalkan dan hanya sampai di Tegal Alun ini saja. Di sini akhirnya gue pun memilih berkenalan dengan teman-teman satu rombongan yang lain, dan seperti biasa pasti gue menemukan teman perjalanan yang satu kampus dengan gue :ngakak:

Padang Edeweis di Tegal Alun – Papandayan

Oh ya di Tegal Alun ini juga gue sempat mencicipi untuk pertama kali nya sumber mata air dari alam langsung. Dan ternyata rasa nya begitu segar sekali, yang pasti tidak bikin sakit perut ketika itu walaupun gue sudah minum hingga 2 botol ( 700 ml ) karena haus berat.

Mata Air di Tegal Alun – Papandayan

Dan sehabis dari Tegal Alun ini, rombongan kembali ke Pondok Saladah, packing lalu turun pukul 13.30 dan sampai di Camp David kembali pukul 3 sore. Di Camp David gue sempatkan foto dengan teman 1 tenda sebagai kenang-kenangan dan tuker-tukeran contact jika ada keinginan mau naik lagi ke Gunung lain.

Foto Bersama Sebelum Pulang ( Teman 1 Tenda )

Di Camp David, mobil pick up sudah menunggu rombongan kami untuk di antar kembali menuju Terminal Guntur, Garut dan akhirnya gue menaiki bus jurusan Garut – Jakarta ( Kp. Rambutan ) dengan biaya 42 ribu rupiah dan sampai di rumah jam 24.00

Sekian catatan perjalanan gue ke Gunung Papandayan ini, semoga bermanfaat untuk anda yang membaca :bye:

We Are Born to Be Free!

 

 

22 thoughts on “Pendakian Gunung Papandayan yang Ceria dan Menyenangkan

    • Frenky Post author

      Hi masbro, berhubung gue pake jasa trip organizer jadi selama di garut gue sama sekali ga tau ni rincian biaya nya karena udah di atur semua mulai dari sewa pickup, pembayaran simaksi, dll selama di garut nya aja.

      Reply
  1. oca163

    informatif sekali.. trims untuk artikel nya.. jadi sedikit banyak tau mengenai papandayan.. baru mau pertama kalinya ke sana tanggal 24 bulan ini..jadi mau kumpulin info2 seputaran gunung itu.. kalo pick-upnya kapasitas bisa angkut brapa orang plus barang2nya ya?

    trimakasih..

    Reply
    • Frenky Post author

      Sekitar 12-15 orang kira-kira tergantung besar badan per orang nya :)

      Semoga sukses ya pendakian papandayan nya, have fun :bye:

      Reply
  2. ryan

    Kalo tegal panjang dri saladah kemana yaa?
    Sudah 2 kali kepapandayan ga tau tegal panjang, cuma mentok ditegal alun :D

    Reply
    • Frenky Post author

      Kalau dari Saladah, ambil jalur pulang ke basecamp, nanti kira-kira jalan 10 menitan setelah lewat jalur sempit ketemu area agak luas, nah dari situ ambil jalan lurus untuk ke Tegal Panjang, kalau pulang ke basecamp belok kanan :)

      Reply
  3. endpuji

    Waahh…ada pak Jarwo, hebat bapak itu ngebolang terus ^_^

    btw,,,mata airnya itu sebelah mana nya ya mas? di jalur mau ke puncaknya atau sebelah mana?

    Reply
    • Frenky Post author

      Wah kenal Pak Jarwo juga ternyata, si Pak Jarwo ini emang nge bolang terus ke gunung-gunung :good:

      Mata air nya benar tuh jalur pas mau ke Puncak dari Tegal Alun, kalau dari pintu masuk Tegal Alun dari Hutan Mati, arah nya lurus aja ke jam 10.

      Reply
  4. Andri Kurniawan

    Keren ceritanya, Insyaallah besok tgl 31 Januari ayas mau nanjak juga, kira2 abis biaya berapa ya dari Jakarta bang?

    Reply
    • Frenky Post author

      Thanks masbro untuk pujian nya :D

      Kalau dari Jakarta kira2 habis :
      Kp. Rambutan – Garut -> 84 ribu PP
      Garut ke Basecamp David -> 30 ribu PP ( Nebeng ama kel lain )
      Simaksi -> 3 ribu an

      Reply
    • Frenky Post author

      Harus nya bakal ketemu juga karena belum masuk musim kemarau ya…

      Jangan lupa bawa sunblock, panas nya menyengat banget disana :hero:

      Reply
    • Frenky Post author

      Kalau kasus gue sih karena keterbatasan waktu dan cuaca juga mendung ketika itu :ngakak:

      Next time kesini lagi semoga bisa summit ke Puncak :senang:

      Reply
    • Frenky Post author

      Weekend Sabtu – Minggu bisa koq bro kesana, tinggal siapkan niat dan perlengkapan naik gunung nya saja :good:

      Reply


Jangan Malu-Malu Tinggalkan Komentar ya!
Komentar Anda Sangat Berarti Buat Saya

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:star:  :ahaaah:  :suram:  :beg:  :bye:  :cheer:  :confused:  :keren:  :crying:  :dead: 
:desperate:  :yeah:  :evilsmirk:  :good:  :senang:  :angry:  :hi:  :info:  :ngakak:  :lonely: 
:relax:  :crot:  :kaget:  :shy:  :sigh:  :silence:  :hero:  :sweating:  :peace:  :wait: 
:calm:  :siul:  :busy:  :wow:  :wtf:  :yawn:  :ill:  :noooo:  :notlisten:  :ngamuk: