Hari 8 : Osaka ( Museum Housing and Living, Shitennoji Temple, Daisen Park )

Di tanggal 2 Juli 2015 ini, gue resmi menjadi solo traveller alias jalan-jalan sendiri selama 3 hari ke depan karena teman-teman seperjalanan gue sudah kembali duluan ke Indonesia! Alasan kenapa gue ~sok ide~ buat extend hari kepulangan gue adalah karena nanggung jalan-jalan di Jepang kalau cuma seminggu dan juga sekalian gue mau habisin cuti sebelum resign dari kantor #halah, tapi yang paling bikin semangat adalah pengen nyobain pertama kali nya jadi seorang solo traveller di negara orang lain walau cuma sebentaran :yeah:

Fokus jalan-jalan gue hari ini hanya sebatas di Osaka saja, lebih ke jalan santai saja karena engga tau kenapa kaki gue mulai pegel gitu deh, tebakan gue sih karena kebanyakan jalan kaki di Jepang selama seminggu terakhir, andai di Osaka seperti di Bangkok yang banyak jasa massage kaki, gue tanpa ragu dah bakal nyobain, tapi sayang engga ketemu jasa massage kaki di Osaka.

Tujuan gue di hari ke 8 di Jepang ini adalah melihat keadaan kota Osaka zaman Edo ( 1603-1867 ) di “Osaka Museum of Housing and Living”, numpang foto ke “Shitennoji Temple”, lalu di tutup dengan melihat keindahan taman khas Jepang di “Japanese Garden Daisen Park”. Jadi tema jalan-jalan gue hari ini di Osaka adalah tentang sejarah, religi dan alam :keren:

Itinerary Osaka (02 Juli 2015) SelectShow

* * * * *

TITIP TAS DI HOTEL SHIN IMAMIYA – OSAKA

Hotel Shin Imamiya - Osaka

Hotel Shin Imamiya – Osaka

Setelah say goodbye di pagi hari nya ke rombongan teman-teman gue yang lebih duluan pulang ke Indonesia, gue melanjutkan packing barang ( lagi ) karena harus berpindah penginapan lagi masih di kota Osaka tepat nya ke Hotel Shin Imamiya. Sebenar nya Hotel Toyo itu nyaman tempat nya dan private room lagi, cuma berhubung gue penasaran pengen nyobain gimana rasa nya tidur kamar model “Capsule Room” gitu, jadi nya selama 2 malam terakhir di Jepang, gue akan tidur di “Capsule Room” Hotel Shin Imamiya, Osaka.

Setelah nyantai sejenak nonton TV siaran Jepang yang gue engga ngerti bahasa nya dan foto-foto suasana Hotel Toyo, tepat jam 11.00 gue melakukan check-out dari Hotel Toyo dan berjalan kaki menuju Hotel Shin Imamiya yang letak nya persis di sebelah JR Station Shin Imamiya.

Sesampai nya di Hotel Shin Imamiya, gue di sambut oleh resepsionis, kemudian gue langsung to the point aja memberikan kode booking penginapan dan karena tidak bisa early check-in jadi nya, gue pun minta tolong titip tas backpack dan koper, dan finally mari kita mulai perjalanan di hari ke 8 ini :hero:

* * * * *

KEMBALI KE SUASANA KOTA OSAKA ZAMAN EDO DI OSAKA MUSEUM OF HOUSING AND LIVING

Information : Osaka Museum of Housing and Living Guide

Harga Tiket : 600 Yen

Direction : Subway Tenjinbashisuji 6-chome Station (exit No.3)

Osaka Museum of Housing and Living

Osaka Museum of Housing and Living

Sebenar nya perjalanan ke Osaka Museum of Housing and Living ini dadakan juga, pada awal nya gue engga pernah tau kalau museum ini exist di Osaka. Semua berawal ketika beli sarapan 1 Sosis Panjang di Lawson ( 130 Yen ), saat itu waktu menunjukkan jam 11.30, gue memilih makan di sebelah Lawson. Gue saat itu tidak ada tujuan mau kemana di Osaka ini, terus lihat cuaca nya kok panas banget ya kalau wisata outdoor, ya udah akhir nya gue pun coba cari tempat wisata indoor di buku Kansai Thru Pass, cari tempat wisata diskon-an gitu :sweating:

Eh ketemu nama Osaka Museum of Housing and Living di buku Kansai Thru Pass ada diskonan 100 Yen #lumayan, wisata indoor pula, sekaligus museum pertama yang gue kunjungi selama di Jepang hahaha… ya udah langsung berangkat dah ke sana! Dan sama seperti hari sebelum nya, karena hari ini gue cuma berencana jalan-jalan di Osaka, jadi nya gue beli 1 Day Pass Osaka Subway ( 800 Yen ) langsung pada mesin di station.

Osaka Museum of Housing and Living di Lantai 8F

Osaka Museum of Housing and Living di Lantai 8F

Sesampai nya di Tenjinbashisuji 6-chome Station (exit No.3), gue bingung awal nya dimana letak Osaka Museum of Housing and Living karena gue bukan nya ketemu Pintu masuk Museum melainkan area Tenjinbashi-suji Shopping Street ( nah loh! ). Double check ke google maps, posisi gue saat itu sudah benar, tapi yang gue lihat didepan mata saat itu cuma ada Shopping Street sama Bank, tambah bingung dah gue. Akhir nya coba googling lagi, eh ternyata Museum of Housing and Living ini ada di satu gedung sama tempat lain nya dan terletak di lantai 8F.

Begitu keluar dari pintu lift di lantai 8F, gue langsung di sambut sama gadis cantik penjual tiket. Gue menyerahkan potongan diskon 100 Yen, jadi gue cuma bayar 500 Yen. Di meja resepsionis, gue melihat banyak tempelan kertas dan salah satu nya berisi pengumuman di tempat ini DILARANG penggunaan MONOPOD aka Tongsis, waduh engga bisa narsis dong gue, ohhhh noooooooo, dan sebagai akibat nya di tempat ini engga ada foto gue nya dong :crying:

Larangan memakai Tongsis, Petunjuk Penyewaan Kimono, Tiket Masuk

Larangan memakai Tongsis, Petunjuk Penyewaan Kimono, Tiket Masuk

Walaupun engga bisa narsis, bukan berarti gue langsung balik arah pulang ya, the show still must go on! Sesuai nama Museum nya, maka di sini gue berjalan-jalan menyusuri rumah dan kehidupan masyarakat Osaka di zaman Edo dulu. Di dalam setiap rumah, terdapat pernak pernik barang yang digunakan sehari-hari pada zaman Edo dulu seperti tempat beras, tempat tidur, lemari, lampu, yang pasti terlihat antik dan jadul deh barang nya. Pengunjung yang datang saat itu cukup ramai di tambah tempat nya Indoor sehingga ruang gerak nya cukup terbatas, dan gara-gara keadaan tersebut gue jadi mengerti alasan kenapa Tongsis dan Tripod dilarang pengunaan nya :lonely:

Hal menarik di tempat ini adalah dari sisi background effect nya di permainan lighting dan sound effect, jadi walau Indoor, di tempat ini gue bisa merasakan suasana pagi, malam bahkan hujan ( ada suara geledek sama air turun nya! ). Selain itu di sini banyak banget pengunjung wanita yang memakai Kimono karena di dalam area ini ada rental penyewaan Kimono yang harga nya murah, tapi rame dan antrian nya panjang banget dan wanita semua yang ngantri! :dead:

Kapal dan Benda Klasik Zaman Edo

Kapal dan Benda Klasik Zaman Edo

Penyewaan Kimono di Osaka Museum of Housing and Living

Penyewaan Kimono di Osaka Museum of Housing and Living

Setelah puas melihat sisi klasik Kota Osaka, gue pun menuju ruangan berikut nya untuk meilihat sisi Modern Kota Osaka. Di ruangan sisi Modern Kota Osaka, tampilan nya hanya berupa miniatur-miniatur sejarah perkembangan Kota Osaka. Dari segi visual, informasi yang diberikan cukup memberikan gambaran sejarah perkembangan nya, secara audio, seinget gue cuma di jelaskan dalam bahasa Jepang, jadi ya gue otomatis langsung skip. Total 45menit gue habiskan di Osaka Museum of Housing and Living, tadi nya mau lebih lama karena tempat nya adem, asyik buat duduk-duduk nyantai di sana, tapi karena perut lapar, jadi gue pun bergegas keluar dari tempat ini.

Modern Osaka Museum of Housing and Living

Modern Osaka Museum of Housing and Living

Di Tenjinbashi-suji Shopping Street banyak pilihan makanan yang bisa dipilih, tapi karena saat itu gue lagi pengen ngemil praktis dan tetap buat kenyang, jadi nya gue milih membeli Takoyaki isi 6 seharga 350 Yen. Rasa nya? Oishi dong! Secara Takoyaki yang terkenal paling enak di Jepang kan di kota Osaka. Oh ya kalau makan Takoyaki di sini jangan buru-buru, karena masih panas biasa nya. Jadi nya kalau langsung nge-Hap 1 takoyaki utuh yang panas bisa berpotensi buat lidah langsung terasa seperti kebakar :suram:

Takoyaki ( 6pcs = 350 Yen )

Takoyaki ( 6pcs = 350 Yen )

* * * * *

NUMPANG FOTO DI SHITENNOJI TEMPLE

Information : Shitennoji Temple JAPAN GUIDE

Harga Tiket : 300 Yen

Direction : Subway Shitennoji-mae-Yuhigaoka Station atau JR Tennoji Station

Shitennoji Temple

Shitennoji Temple

Tujuan gue ke Shitennoji Temple ini cuma sekadar buat mampir setidak nya ada main ke satu Temple di Osaka. Dan ternyata Shitennoji Temple ini merupakan kuil Buddhist pertama dan paling tertua di Jepang, di bangun di tahun 593 oleh Prince Shotoku yang mendukung perkenalan agama Buddha ke Jepang.

Nah untuk menuju Shitennoji Temple ini juga mudah, karena saat itu kondisi nya gue sudah membeli 1 Day Pass Osaka Subway, jadi gue sengaja mencari rute yang menggunakan subway dan pilihan yang tepat adalah ke Shitennoji-mae-Yuhigaoka Station. Sesampai nya di station ini, masih butuh jalan kaki sekitar 10 menit melewati area perumahan sebelum akhir nya benar-benar sampai di Shitennoji Temple.

Jalan menuju Shitennoji Temple

Jalan menuju Shitennoji Temple

Pintu Masuk Shitennoji Temple

Pintu Masuk Shitennoji Temple

Di depan pintu masuk Shitennoji Temple, karena cuaca saat itu panas terik, gue berharap banyak ketika melihat rangkaian tiang yang ada di depan mata gue saat itu bakal mengeluarkan hembusan air dan ternyata itu semua hanya lah harapan gue semata karena itu hanyalah rangkaian tiang biasa. Seperti nya saat itu sedang persiapan properti buat suatu event, jadi terlihat banyak lalu lalang para pekerja dan juga rangkaian tiang.

Oh ya untuk sekedar masuk ke Shitennoji Temple di area luar masih gratis, ada beberapa bangunan yang gue engga tau nama nya, cukup menarik untuk di lihat. Aktivitas yang paling menarik yang gue lihat di sini adalah melihat cara orang berdoa di sini, yaitu memasukkan uang ke kotak, menyiram sebanyak 3 kali kemudian membunyikan lonceng. Selebih nya karena gue pada akhir nya memilih engga masuk ke area dalam Temple yang di haruskan membayar 300 Yen, jadi nya gue cuma foto-foto cantik area luar nya, terus foto narsis walau juga hasil akhir nya jelek karena panas terik #alibi :shy:

Berdoa di Shitennoji Temple

Berdoa di Shitennoji Temple

Shitennoji Temple Outer Area

Shitennoji Temple Outer Area

Harga Tiket Shitennoji Temple Inner Area

Harga Tiket Shitennoji Temple Inner Area

* * * * *

NONGKRONG CANTIK DI JAPANESE GARDEN – DAISEN PARK

Information : Official Website Japanese Garden Daisen Park

Harga Tiket : 200 Yen

Direction : 20 Minutes Walk from JR Mozu Station

Japanese Garden Daisen Park ( Musim Sakura dan Musim Gugur )

Japanese Garden Daisen Park ( Musim Sakura dan Musim Gugur )

Karena gue ini pada dasar nya suka lihat yang bening-bening dan yang hijau-hijau, jadi nya waktu itu kepikiran mendadak pengen lihat gimana rupa Taman Aseli Jepang. Coba googling di sekitaran Osaka, eh langsung ketemu rekomendasi tempat “Japanese Garden – Daisen Park”. Lokasi nya bisa gue katakan cukup lumayan jauh ya, tinggal cari rute aja ke JR Mozu Station.

Sesampai nya gue di JR Mozu Station, lanjut jalan kaki sekitar 15 menit buat cari lokasi Daisen Park terlebih dulu. Ternyata area Daisen Park itu luas banget dan di dalam nya ada museum juga, Bicycle Museum dan Sakai City Museum, selain itu ada perpustakaan kota Sakai dan pasti nya ada “Japanese Garden” tempat yang akan gue tuju.

Arah Menuju Daisen Park dan Peta Luas Area Daisen Park

Arah Menuju Daisen Park dan Peta Luas Area Daisen Park

Daisen Park

Daisen Park

Gue membayangkan andai gue datang di musim Sakura atau musim Gugur ke Daisen Park ini, pasti indah banget tempat nya tetapi karena gue datang pas di musim Summer, jadi nya sepanjang mata gue melihat hijau-hijau yang engga ada ujung nya karena memang luas banget tempat nya. Sesekali gue melihat aktivitas umum warga sekitar seperti jogging, anak-anak bermain bola, lalu para orang tua yang memancing di pinggiran kolam besar di tengah Daisen Park.

Tidak mau membuang waktu, gue pun mempercepat langkah kaki hingga akhir nya gue sampai di depan pintu masuk Japanese Garden. Harga tiket nya hanya 200 Yen saja dan pengunjung nya sepi menjurus engga ada malahan, untung ajah petugas loket nya engga nanya kenapa gue bisa nyasar ke tempat ini :lonely:

Tidak banyak yang bisa gue ceritakan dari tempat ini karena memang pada dasar nya adalah taman biasa, beda nya cara penataan tanaman dan batu-batuan nya itu kental dengan Jepang nya. Oh ya tempat ini seperti nya cukup populer di jadikan tempat foto pre-wedding, terbukti gue melihat dua couple yang sedang melakukan sesi pemotretan, calon pengantin cewek nya sih kawai banget, sayang lensa gue bukan Tele jadi nya engga bisa foto dari jauh deh :sigh:

Japanese Garden - Daisen Park

Japanese Garden – Daisen Park

Japanese Garden - Daisen Park

Japanese Garden – Daisen Park

Foto Pre-Wedding di Japanese Garden Daisen Park

Foto Pre-Wedding di Japanese Garden Daisen Park

Check in Completed! At Japanese Garden Daisen Park

Check in Completed! At Japanese Garden Daisen Park

Total 45 menit gue habiskan di Japanese Garden ini ( kebanyakan acara duduk santai nya di gazebo ) sebelum memutuskan jalan-jalan santai lagi di sekitar Daisen Park. Terus tiba-tiba ketemu lagi kolam besar di Daisen Park, ya udah karena gue pikir udah engga ada acara lagi, akhir nya duduk cantik di kolam besar sambil browsing baca berita terus stalking media sosial nya si mantan #eh sama main Tinder iseng-iseng siapa tau dapat #halah :ngakak:

Duduk Cantik di Daisen Park

Duduk Cantik di Daisen Park

* * * * *

TIDUR LEBIH AWAL DEMI KE HIMEJI BESOK PAGI

Royal Milk Tea, JR Mozu Station, Dinner Food, Beer Asahi

Royal Milk Tea, JR Mozu Station, Dinner Food, Beer Asahi

Perjalanan kembali ke Hotel Shin Imamiya sangat mulus karena letak nya persis di sebelah JR Shin Imamiya Station, jadi perjalanan gue dari JR Mozu Station ke JR Shin Imamiya Station tinggal naik 1 kereta aja tanpa transit. Sebelum kembali ke penginapan, mampir dulu ke Family Mart beli Royal Milk Tea ( 142 Yen ), Air Minum 2 Liter ( 98 Yen ) sama Bir Asahi ( 224 Yen ), terus Top Up lagi si Pasmo Card 1000 Yen buat jaga-jaga.

Makan malam hari itu di tempat yang sama seperti malam sebelum nya, gue lupa nama menu nya, tapi yang pasti telor sama daging dan bikin kenyang! Dan baru hari ini gue sudah sampai di penginapan jam 20.00, ending nya acara malam itu di tutup dengan nonton TV Sport karena engga perlu ngerti bahasa nya sambil minum Bir Asahi dan akhir nya gue bisa tidur dengan cepat dan nyenyak banget :relax:

Capsule Room - Shin Imamiya Hotel, Osaka

Capsule Room – Shin Imamiya Hotel, Osaka

Perkiraan Biaya per Orang

No. Keterangan Biaya

( 1 Yen = Rp 110 )

1. Sarapan Pagi Sosis Lawson 130 Yen
2. 1 Day Osaka Subway Pass 800 Yen
3. Tiket Osaka Museum of Housing and Living

( Diskon 100 Yen )

500 Yen
4. Makan Siang Takoyaki isi 6 350 Yen
5. Tiket Japanese Garden Daisen Park 200 Yen
6. Royal Milk Tea ( 142 Y )

Air Minum 2 Liter ( 98 Y )

Bir Asahi ( 224 Y )

TopUp Pasmo Card ( 1000 Y )

1.464 Yen
7. Makan Malam 620 Yen
8. 2 Malam – Capsule Room Hotel Shin Imamiya, Osaka 3.900 Yen
Total 7.964 Yen = Rp 875.000

19 thoughts on “Hari 8 : Osaka ( Museum Housing and Living, Shitennoji Temple, Daisen Park )

  1. Noviana

    Hi bro…

    Di hotel Shin Imamiya kalau datang lebih awal berarti boleh titip tas dulu ya ?
    Kena charge atau ngga ?

    Reply
  2. olive

    Hai salam kenal….

    Kansai thru pass tidak cover subway ya?kenapa ya gak pake yang osaka amazing day pass waktu hari ke 7 harusnya kan lbh murah jatuhnya cm 2300yen utk 1day?
    menurut frankey untuk itinerary dibwh ini perlu pake JR Pass /tidak? (traveling utk awal Jan 2017 selama 11hari),saya perlu sarannya.setelah berhitung naik bis sptnya jauh lbh hemat :(
    day 1.Haneda- Tokyo
    day 2 Tokyo
    day 3 Disneysea
    day 4 Lakekawaguchiko – Tokyo
    day 5&6 Tokyo-Takayama-Shirakawago-Takayama-Nagoya or Tokyo-Nagoya (nabana no sato) besoknya br ke takayama-shirakawago-takayama-nagoya
    day 7 Nagoya – Kyoto-Osaka
    day 8 Osaka -Himeji-Osaka
    day 9 USJ
    day 10 Osaka
    day 11 Indo
    Sekalian klu daypass yg cocok apa aja ya ?
    thanks before

    Reply
    • Frenky Post author

      Hi Olive,

      KTP support semua jenis transportasi, tapi ada beberapa pengecualian di jalur tertentu. Waktu itu belum tau ada OAP, baru tau habis bikin post blog ini haha…Daripada beli JR Pass, gimana kalau beli JR Tokyo Wide Pass, mungkin membantu. Sorry saya ga bisa bantu cek in pass yang termurah dan efisien.

      Reply
  3. Steviany

    Thankkss bangeet yaaa sharingnyaa..aku selalu ikutin itinnya dari mulai ke korea sampe nanti mau ke jepang..informatif bangett dan jadi ada gambarannyaa.. :D

    Reply
    • Frenky Post author

      Hi Steviany,

      Thank you juga udah engga sengaja mampir ke blog gw ya dan komentar nya, semoga enjoy travelling nya ke Korea dan Jepang nya hahaha :)

      Reply
  4. Sasa

    Ko bole tny? Aku uda beli tiket promo tuk ke jepang april 2017 cuma baru beli brgkt ny aja, karena pulang ny mnurut ku ga promo msh tinggi hrga ny. (Sekitar 3jt an, padahal tiket brgkt cuma 1.5jt). Cuma banyak yg blg harus ny skalian pesen aja. Skrg aku liat2 hrga tiket plg ny malah jd 4jt an.. jd makin galau. Mnurut ko2 harus ny pesen skrg atau tunggu nanti ada promo lg?
    Thx b4

    Reply
    • Frenky Post author

      Hi Sasa,

      Kalau 3/4 jt-an one way Jepang ke Medan sih mahal ya, gw prefer tahan dulu, engga worthed AirAsia segitu.

      Mending gw prefer naik Garuda / JAL / ANA ya, tapi engga tau ada engga yang direct Medan, kalau ke Jakarta sih ada.

      Alternatif nya beli aja maskapai lain dari Jepang ke Kuala Lumpur, pilihan nya banyak kan tuh, nah dari Kuala Lumpur ke Medan nya baru naik AirAsia, ini lebih murah harus nya.

      Reply
  5. Nathan

    Halo bro. Terimakasih banyak buat infonya, saya suka sekali bacanya. Saya mau tanya beberapa hal.

    1. Saya rencana masuk lewat KIX, kemudian explore Osaka sekitar 1 hari. Kemudian besoknya ke Kyoto dan explore juga sekitar 1 hari termasuk ke Kurama Onsen. Kemudian besoknya baru ke Tokyo dan spend sekitar 3 hari, termasuk Kawaguchiko Lake. Apakah dengan rincian tersebut cocok/worthed untuk beli JR Pass?

    2. Untuk transportasi dalam kota, masing2 (Osaka,Kyoto,Tokyo) mending beli apa ya om? Pake suica/icoca/pasmo, atau beli day pass gitu? Dan enak pake train atau bus? Tks.

    Reply
    • Frenky Post author

      Hi juga bro,

      1. Keluar Jepang nya lewat KIX juga kah atau lewat NRT / HND? JR Pass itu baru worthed di beli kalau suka pindah-pindah kota atau ada rencana PP Tokyo Osaka pake shinkansen, jadi cek lagi itinerary bro gimana tuh, harga JR Pass 7hari itu sekitar 3.2jt rupiah.

      2. Pada dasar nya Suica/Icoca/Pasmo card sama aja, kalau cuma sebatas turis pasti jalur-jalur nya di support 3 kartu tersebut, gw sendiri pake Pasmo Card ya. Kalau engga mau ribet nentuin day pass apa yang cocok, ya bisa pake salah satu dari 3 kartu tersebut. Kalau mau ribet demi hemat biaya transport, ya berarti harus tentuin dulu mau kemana-mana nya, baru beli pass yang cocok dengan itinerary nya. Jelas enak pake train di banding bus, cuma ya ada beberapa rute lebih asyik naik bus di banding kereta.

      Reply
      • Nathan

        1. Kalau rencana saya sih masuk KIX, terus keluarnya dari Haneda. Jadinya se jalan aja, nggak pake balik (Osaka -> Kyoto -> Tokyo). Kemudian kalo ngga pake JR Pass, transport antar kota tsb yang cocok apa ya? Mending naik train atau bus, dan mahal mana? Kalo train mahal nggak ya?

        2. Oo gitu bro. Mending ribet deh biar hemat haha. Tapi bingung juga ya nentuin masing2 pass nya.

        3. Kalau buat di sekitaran Tokyo apakah worthed beli Tokyo Wide Pass yg 10000 yen itu? Saya spend sekitar 3 hari (Kawaguchiko Lake, Shibuya-Shinjuku-Harajuku-Akihabara, Odaiba). Atau menurut bro frengky gimana? Ke kawaguchiko lake nya enak naik train atau bus? tks

        Reply
        • Frenky Post author

          1. Transport antar kota nya kalau Osaka ke Kyoto naik kereta biasa, Kyoto ke Tokyo naik Willer Bus saja, kalau yang tipe Night Bus lebih malam, ya hitung2 ganti biaya penginapan

          3. Rugi ya beli Tokyo Wide Pass kalau cuma buat rute tersebut, kalau ada main ke Gala Yuzawa baru worthed beli pass tersebut. Ke Kawaguchiko Lake enakan naik bus sih kalau mau praktis, kalau naik kereta lebih cepat aja waktu nya tapi harus transit jalur kereta nya.

          Kalau cuma buat keliling Tokyo beli JR Tokunai Pass atau Tokyo Subway Pass udah cukup sih. Odaiba punya pass nya sendiri kalau mau beli. Kalau kawaguchiko Lake beli tiket eceran aja.

          Reply
  6. ranselahok

    Salam kenal bro..

    Akhirnya aku selesai ikutin artikel kamu ttg trip ke Jepang. Keren abiss… Lengkap dan sangat membantu diriku nih.

    Soalnya masih pusing soal mau gimana jalan selama di Jepang untuk bulan depan. Eh, ketemu blog kamu. Sedikit lega deh, tinggal disananya saja. Jumlah hari yang hampir sama. Boleh tanya- tanya ya, kalau ada dibingungkan.. Hahaha..

    Ditunggu cerita hari ke 9 dan ke 10 nya….

    ranselahok.

    Reply
    • Frenky Post author

      Hi Bro,

      Ok thank buat kunjungan nya dan feel free buat nanya-nanya hahaha… Blog bro juga bagus informasi nya, nanti gw mampir main ya :ngakak:

      Reply
      • ranselahok

        Bro…

        Willerbus nya beli dari Indonesia ? Termasuk penginapan semua uda beli dari Indonesia? Menurut u, jika aku on the spot baru cari penginapan, gimana, selain mungkin harga yang lebih mahal, tapi bisa dapat penginapan gak? Soalnya, biasanya aku selalu on the spot baru cari .. hehehe…

        Ohya, tentang paket internet, beli dimana di Jakarta?

        Thanks,

        ranselahok.

        Reply
        • Frenky Post author

          Untuk WillerBus cuma tersedia pembelian via online aja setau gw, kalaupun bro coba beli di kantor willerbus langsung, nanti di arahin ke meja komputer gitu suruh beli sendiri.

          Wah kalau masalah penginapan kurang paham nih masalah on the spot gitu ya, cuma kalau datang di low season kaya kemarin gw kesana di bulan juni akhir, itu cukup mudah sih cari yang kosong on the spot. Tapi kalau pas musim sakura di April, kaya nya jangan berharap banyak deh.

          Kalau internet, gw sewa ( bukan beli ) di HIS Jakarta di Sudirman kantor nya. Detail harga nya baca di sini ya http://frenkeyblog.com/jalan-jalan-ke-jepang-10-hari-6-kota/

          Reply
  7. Avo

    Huaaa gue sedih baca post Osaka lo karena kemaren ga maksimal banget ke Osaka nya hahahahahaaaaaaaa

    Reply
    • Frenky Post author

      Itu arti nya ada alasan lagi buat kembali ke Jepang hahaha… gw juga pengen balik lagi travel kesana, tapi maen di sekitaran Hokkaido sama Tokyo nya, semoga berjodoh lagi kesana

      Reply


Jangan Malu-Malu Tinggalkan Komentar ya!
Komentar Anda Sangat Berarti Buat Saya

Your email address will not be published. Required fields are marked *

:star:  :ahaaah:  :suram:  :beg:  :bye:  :cheer:  :confused:  :keren:  :crying:  :dead: 
:desperate:  :yeah:  :evilsmirk:  :good:  :senang:  :angry:  :hi:  :info:  :ngakak:  :lonely: 
:relax:  :crot:  :kaget:  :shy:  :sigh:  :silence:  :hero:  :sweating:  :peace:  :wait: 
:calm:  :siul:  :busy:  :wow:  :wtf:  :yawn:  :ill:  :noooo:  :notlisten:  :ngamuk: